Minggu, 17 Maret 2013

Banjir Lagi, Warga Kampung Pulo Tetap Beraktivitas

JAKARTA, KOMPAS.com - Wilayah Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur kembali terendam banjir, Selasa (5/3/2013). Pantauan Kompas.com, hingga pukul 11.04 WIB air setinggi sekitar dua meter menggenangi wilayah tersebut. Dinas Sosial DKI dan tim SAR telah menurunkan bantuan berupa perahu karet serta makanan siap saji untuk penduduk Kampung Pulo.
Rodiah, ibu RT 05 RW 03 Kampung Pulo mengatakan, air baru mulai memasuki kawasan Kampung Pulo pukul 02.00 WIB. "Tapi air masuk ke rumah pukul 03.30," kata Rodiah yang saat ditemui tengah mengungsi di rumah tetangganya.
Akibat banjir tersebut, listrik di kawasan tersebut sudah padam sejak pukul 10.00 WIB. Menurut Rodiah, warga Kampung Pulo tidak menyangka akan terjadi banjir lagi seperti yang terjadi Januari silam. Namun, karena banjirnya tidak separah yang terjadi pada Januari, warga tetap bisa beraktivitas seperti biasa.
"Motor-motor sudah dipindahkan ke daerah yang tidak kena banjir," katanya.
Rodiah mengatakan, dia belum menerima bantuan selain roti dari Suku Dinas Kesehatan yang diambilnya sendiri.
Banjir di Kampung Pulo tersebut juga menyebabkan kemacetan lalu lintas di ruas jalan Kampung Melayu arah Jatinegara. Hal itu diakibatkan sejumlah mobil stasiun televisi yang parkir di tepi jalan untuk proses peliputan. Hal itu diperparah dengan adanya sejumlah mobil tim SAR dan kendaraan pribadi yang menepi untuk melihat keadaan wilayah tersebut.
Sumber : Kompas.com
Berdasarkan metode ilmiah
1.      Perumusan masalah : kembalinya banjir yang merendam kota Jakarta khususnya daerah kampung pulo yang disebabkan meluapnya kali-kali yang melintasi ibukota ini. Namun ada faktor yang menyebabkan terjadinya banjir tahunan ini bahkan banyak pengamat mengatakan lebih parah dibandingkan 2007 silam. Faktor tersebut adalah hilangnya daerah serapan air yang berada di daerah bogor, semakin sempitnya sungai-sungai yang melintasi Jakarta karena banyaknya masyarakat membangun rumah dibantaran sungai, kurangnya kesadaran akan membuang sampah pada tempatnya serta banyaknya sedimentasi yang ada di berbagai kali yang ada dan banyak drainasedrainase tidak terlalu berfungsi ketika banjir tiba.
2.      Penyusunan hipotesis : untuk memecahkan masalah banjir tahunan ini adalah dikembalikannya daerah resapan air sebagaimana mestinya, melakukan pengerukan di berbagai kali yang mengalami pendangkalan dan merubah mindset masyarakat dengan tidak membuang sampah dikali yang mengakibatkan meluapnya air ketika banjir.
3.      Pengujian hipotesis : dari berbagai solusi di atas menyatakan berbagai cara untuk mengatasi banjir dan masih perlu dilakukan pengkajian seta eksperimen secara terus-menerus agar menghasilkan tujuan yang diharapkan.
4.      Penarikan kesimpulan : Jakarta harus bebas banjir karena menyandang nama ibukota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar